•  

    Layanan & Pembelian

    0817-461-814

  •  

    Opening Times

    Mon - Fri 08.00 - 17.00

Rp. 50.000,-

Novel pesantren ini memiliki gaya cerita yang unik. Una yang menjadi tokoh utamanya,


menghadapi masalah terkait jerawat yang membuatnya merasa bingung. Bukan hanya jerawat yang biasa. Jerawat yang ini lebih dari sekedar jerawat komedo, jerawat batu apalagi jerawat cinta. Jumlahnya tidak banyak sih, tapi sangat menyiksa. Malah bisa bikin Una merasa jadi makhluk paling aneh diantara 30 orang penghuni kamar Pena 4. Gara-gara jerawat ini, ia selalu uring-uringan dan bete berhari-hari. Jadi, jangan heran kalau ia gampang marah hanya karena kesenggol ujung rambutnya. Ia jadi serius dan sering banyak diam. Nggak pernah ngomong, kecuali yang penting-penting dan nggak pernah tersenyum kecuali pas gosok gigi.

 

Cover : Soft Cover

Pengarang : Isma Kazee

Cet. 2 : 2012

Ukuran : 11 x 17 cm

Jml Hal : 202

Penerbit : Matapena

Rp. 57.000,-

Novel ini bercerita tentang Nawang Wulan. Waktu kecil ia seperti purnama yang selalu


menerangi hati ibunya yang kelam. Dan kini, ia ingin kembali menjadi purnama; menunjukkan pada ibunya bahwa ketakutan ibu terlalu berlebihan tentang trah dan pesantren. Ia akan menunjukkan, Alfin adalah sosok Gajah Mada, Sang Maha Patih yang dikenal karena Sumpah Palapa dan tidak sekali pun bertopang pada silsilah. Derajat dan kemuliaan tinggi yang diraihnya adalah berkat perjuangan yang murni dari seorang putera rakyat biasa. Namun, ternyata Nawang harus terluka. Alfin bukanlah Gajah Mada. Purnama itu pun tertutup awan. Sampai sebuah nada pesan HP-nya berbunyi. Pesan dari Yasfa: “… Saat langit terkatup genggam keharuan. Isyarah menjelma dalam lelah. Isyarah menjelma pesona. Tertuang doa dalam memar luka. Adalah duka doaku. Puja pintaku. Jadilah purnamaku.”

 

Cover : Soft Cover

Pengarang : Khilma Anis

Cet. 3 : 2012

Ukuran : 11 x 17 cm

Jml Hal : 238

Penerbit : Matapena

Rp. 57.000,-

Novel teenlit pesantren ynag satu ini mengisahkan tentang seorang santriwati yang terbilang jutek.


Ita, seorang bisa membikin butek sepuluh orang teman kamarnya. Sampai mereka hanya bisa saling curhat sesama korban kejutekannya. Tentu saja pakai sembunyi-sembunyi dan mereka suka kasih aba-aba. ”Ja’a Jutek, Ja’a Jutek!” yang berarti ”Jutek datang, jutek datang.”begitu ada tanda Ita hampir masuk kamar, mengganggu curhat mereka. Bisa jadi, Cuma Lintang yang punya keberanian membuat keadaan berbalik. Ita yang bebas bersikap karena dekat dengan Bu Nyai, harus menerima pembalasan hingga membuatnya terpuruk dan tak berdaya.

 

Cover : Soft Cover

Pengarang : Isma Kazee

Cet. 2 : 2012

Ukuran : 11 x 17 cm

Jml Hal : 223

Penerbit : Matapena